Blogger templates

Jumat, 01 April 2016

Syaikh Ahmad Al-Badawi || Shalawatnya melebihi Dala'il al-Khairat




Syaikh Ahmad bin Ali Bin Yahya Al-Badawi lahir di Kota Fes, Maroko pada tahun 596 H./1199 M adalah seorang imam sufi, wali kutub dan pendiri thariqah Al-Badawiyah. Beliau dijuluki Al-Badawi selalu menutup wajahnya seperti kebiasaan Arab Badui. Kakek beliau sebelumnya bermukim di Jazirah Arab. Kakek beliau datang di Fes Maroko akibat semakin brutalnya aksi Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi terhadap kalangan Alawiyin

Nasab Al-Badawi dari jalur ayah sampai kepada sayyidina Husein bin Ali, bin Fathimah Az-Az-Zahra' binti Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam. Berdasarkan kesepakatan ulama nasab, dan ahli sejarah, secara lengkap nasab beliau adalah Ahmad bin Ali bin Yahya bin Isa bin Abu Bakar bin Ismail bin Umar bin Ali bin Utsman bin Husein bin Muhammad bin Musa bin Yahya bin Isa bin Ali bin Muhammad bin Hasan bin Ja'far Az-Zaky bin Ali Al-Hadi bin Muhammad al-Jawwad bin Ali Ridlo bin Musa al-Kadhim bin Ja'far As-Shadiq bin Muhammad al-baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. 

Sebagian ahli Nasab dan sejarah meragukan sampainya rantai nasab beliau kepada rasulullah shallallahu alaihi was sallam. Diantara mereka adalah Imam Fakhruddin Ar-Razi yang mengatakan bahwa Hasan bin Ja'far bin Ali Al-Hadi adalah orang yang masih diperselisihkan oleh para ulama apakah ia mempunyai anak atau tidak. Sedangkan kalangan Syiah membenarkan rangkaian nasab Al-Badawi. Mereka menisbatkannya kepada Ali bin Ja'far Az-Zaky bukan kepada Al-Hasan bin Ja'far Az-Zaki, karena Al-Hasan tidak mempunyai keturunan.

Beliau hijrah ke Mekah saat berumur 7 tahun (Tahun 603 H./1206 M), dimana perjalanan kesana memakan waktu empat tahun, tiga tahun diantaranya beliau bermukim di Mesir. Di Mekah berdasarkan sumber-sumber dari kalangan shufiyah, beliau selalu beristiqamah melakukan thawaf semenjak kecil, setelah itu beliau masuk ke sebuah gua di gunung Abil Qubais untuk melakukan Ibadah. Amalan ini beliau lakukan hingga belaiu berumur 38 tahun saat beliua melakukan safar ke Irak, bersama kakak kandungnya, Hasan. 

Di Irak beliau menziarahi berbagai kota tempat bermukim atau bersemayamnya para ulama, diantaranya ke Kota Syaikh Ahmad bin Ali Ar-Rifa'i, pusat thariqah Rifa'iyah. Juga ke makam Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, kemudia ke makam Syaikh Adiy bin Musafir Al-Hikari mu'assis thariqah Al-Adawiyah. 

Ketika al-Badawi berada di sebuah desa dekat Mosul, terjadi perselisihan antara dirinya dengan seorang wanita bernama Fatimah. Wanita ini cantik dan kaya. Tetapi ia senang membuat lelaki jatuh cinta kepadanya. Demikian pula ia lakukan hal itu kepada Al-Badawi, tetapi ia tidak mampu, hingga ia merayu al-Badawi untuk menganinya. Diakhir cerita si wanita bertaubat di tangan al-Badawi.

Sekembali dari Irak pada tahun 635 H, Al-badawi mempunyai kebiasaan yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Beliau semakin banyak melakukan shalat dan puasa, banyak berdiam diri dan sering menengadahkan wajah ke langit. Fatimah saudara perempuan beliau mengadukan kepada kakaknya Hasan: "Wahai saudaraku! Sesungguhnya saudara kita Ahmad selalu qiyamullail sepanjang malam. Selalu mamandang langit dan siang hari ia berpuasa, hingga bulatan hitam matanya menjadi mereka bagaikan bara. Dia pernah selama 40 hari tidak makan dan tidak minum".

Hijrah ke Mesir
Pada tahun yang sama setelah pulang dari Irak, beliau memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Mesir dengan tujuan kota Thantha. Perjalanan ini bukan hanya sebatas ziarah, tetapi sebuah hijrah berdasarkan mimpi beliau. Begitu Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani menuturkan. 

Sebenarnya terdapat banyak pendapat ulama tentang alasan Al-Badawi hijrah ke Mesir, dan menetap di Thantha. Dikatakan bahwa beliau mempunyai pemikiran bahwa secara geografis Thantha berada di tengah diantara Kairo dan Iskandariyah, yakni berada tepat di tengah Delta sungai Nil. Dengan letak yang seperti ini, diharapkan penyebaran thariqah yang beliau bangun dapat cepat menyebar, ketika beliau menetap di sana.

Di Thanta beliau menetap di rumah seorang saudagar bernama Ibnu Syuhaith atau Ruknuddin. Beliau menetap di loteng rumah yang berdekatan dengan masjid Al-Bahiy ini hingga selama 12 tahun dan seluruhnya dihabiskan dengan tidak makan dan minum setiap 40 hari. 

Dalam kitab-kitab tashawuf, disebutkan karama-karamah yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad Al-Badawi. Diantaranya yang paling masyhur adalah beliau mampu membebaskan para tawanan Mesir dari tangan tentara Eropa saat terjadi perang Salib. Atas kejadian ini dalam catatan sejarah Mesir terkenal sebuah ucapan, yaitu "Allah, Allah, Ya Badawi, Jabil Yusra", yang berarti Al-Badawi telah datang membawa tawanan.

Saat ini di Thantha, setiap tahun ada dua peringatan untuk mengenang beliau, yaitu di bulan April dan bulan Oktober. Peringatan di bulan Oktober ini adalah peringatan kelahiran beliau, yang merupakan peringatan terbesar di Mesir secara umum. Pada saat iru sekitar dua juta peziarah memenuhi masjid beliau yang berada di tengah di kota Thantha. 

Shalawat Al-Badawiyah

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ شَجَرَةِ الأَصْلِ النُّورَانِيَّةِ . وَلَمْعَةِ الْقَبْضَةِ الرَّحْمَانِيَّةِ . وَأَفْضَلِ الْخَلِيْقَةِ اْلإِنْسَانِيَّةِ . وَأَشْرَفِ الصُّوْرَةِ الْجِسْمَانِيَّةِ . وَمَعْدِنِ اْلأَسْرَارِ الرَّبَّانِيَّةِ . وَخَزَائِنِ الْعُلُوْمِ الْإِصْطِفَائِيَّةِ . صَاحِبِ الْقَبْضَةِ الأَصْلِيَّةِ . وَالْبَهْجَةِ السَّنِيَّةِ وَالرُّتْبَةِ الْعَلِيَّةِ . مَنِ انْدَرَجِتِ النَّبِيُّوْنَ تَحْتَ لِوَائِهِ فَهُمْ مِنْهُ وَإِلَيْهِ . وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلِيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ . عَدَدَ مَا خَلَقْتَ وَرَزَقْتَ وَأَمَتَّ وَأَحْيَيْتَ إِلَى يَوْمِ تَبْعَثُ مَنْ أَفْنَيْتَ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً كَثِيراً وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ .

Shalawat ini disusun oleh Syaikh Ahmad al-Badawi ini, terkenal dengan shalawat al-Badawiyah al-Kubra. Diriwayatkan oleh Hasan ibn Muhammad Qahhi di dalam kitab Talkhiis al-Ma`aarif fii targhiib Muhammad `Aarif bahwa seorang wali yang bernama Muhammad Talmaysani telah membaca Dalail al-Khairat 100.000 kali. Setelah selesai Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendatanginya di dalam mimpi dan berkata kepadanya, “Jika engkau membaca bacaan Ahmad al-Badawi, seolah-olah engkau telah membaca Dalail al-Khayrat 800.000 kali.”

Sebagian ulama berkata : "Barang siapa membaca Sholawat Badawi Kubro ini sebanyak seratus kali disertai suci dari hadas, ia akan diberi rizki yang mudah oleh Allah dalam segala urusan perkaranya" 
Menurut Al Arif Billah Habib Ali bin Abdurahman Al Habsy dalam kitabnya : "Keutamaan Sholawat", bahwa sebagian ulama mengatakan: "Barang siapa yang membaca Sholawat Badawy Kubro sebanyak 3x maka pahalanya seperti orang membaca Dalail al-Khoirot hingga khatam"

Dan tata cara yang lainnya adalah: membacanya 5 kali seusai shalat fardlu dan 7 kali setiap mau tidur. Fadilahnya, ia akan terhindar ari sihir dan segala kejahatan lahir batin, dimudahkannya rizki, dan mendapat cahaya batin serta terbuka beberapa rahasia ghoib.

Shalawat lain yang dinisbatkan kepada beliau adalah shalawat al-Anwar:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُورِ الأَنْوَارِ. وَسِرِّ الأَسِرَارِ. وَتِرْيَاقِ الأَغْيَارِ. وَمِفْتَاحِ بَابِ الْنَسَارِ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُخْتَارِ. وَآلِهِ الأَطْهَارِ. وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ. عَدَد نِعَمِ الله وَأِفْضَالِهِ.

Shalawat ini mujarab untuk mendapatkan hajat dan keinginan, tesingkapnya kesusahan, terhindar dari kesulitan dan juga dihasilkannya cahaya dan rahasia-rahasia ghaib. Menurut guru kami KH. A. Sadid Jauhari, shalawat ini juga memberikan manfaat berupa diberikannya putra-putri yang sholeh dan sholehah, berguna bagi umat. Menurut beliau diantara sebab pendidi PP. Al-Anwar menamai pondoknya dengan Al-Anwar, karena tafa'ulan terhadap shalawat ini, dan karena pendahalu pendiri istiqamah dalam membaca shalawat al-Anwar ini.

Sayyidi Syaikh Ahmad Al-Badawi wafat di Thanta pada hari selasa 12 Rabiul Awal 675 H / 24 Agustus 1276 M, saat berusia 79 tahun. Dari tangannya muncul banyak wali-wali abdal dan kutub. Allahumansyur nafahatirridlwani alaih, wa amiddana bil asrarillati auda'taha ladaih. Amin

Sayyid Hamzah Syatho --- Sedan




Setiap tanggal 23 Muharrom, masyarakat Sedan dan sekitarnya memperingati haul ulama karismatik Sayyid Hamzah Syatho. Ribuan orang tumblek bek dalam haul tersebut. Mereka datang dari berbagai lapisan dan daerah. Tak hanya dari Sedan, peziarah dari berbagai kota di luar Kabupaten Rembang juga berbondong-bondong memadati pesarean terakhir sang wali. Mereka berdoa dengan khidmat di sana. Hal tersebut tercermin pada perngatan haul Sayyid Hamzah Syatho yang tahun ini bertepatan pada hari Sabtu, 8 Desember silam.

Mbah Hamzah, demikian ia biasa dipanggil, merupakan penyebar agama Islam di Daerah Sedan, Rembang dan sekitarnya. Sayyid Hamzah Syatho bukan penduduk asli Sedan. Ia merupakan pendatang dari Makkah Al Mukarromah. Dari segi nasab Mbah Hamzah merupakan salah satu dzhurriyah atau keturunan Nabi Muhammad SAW.

Kedatangannya ke Sedan tak lepas dari pergolakan politik di jazirah Arab saat itu. Peristiwa kudeta berdarah terhadap pemerintahan Raja Syarif Husain oleh kelompok Baduwi Arab yang pimpinan Abdullah bin Saud yang berhaluan faham Wahabi. Selanjutnya, dalam upaya penyebaran faham wahabi, mereka tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa para habaib yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Sayyid Hamzah yang juga merupakan keponakan dari Sayyid Bakri pengarang kitab I’anatut Tholibin, hijrah ke Asia Timur dengan tujuan Indonesia.

Sebelum menetap di Sedan, Sayyid Hamzah bermukim di Bandung dan Malang. Di Sedan Mbah Hamzah dikenal sebagai sosok yang ulet dan tekun menyebarkan ajaran Islam. Ia jua dikenal sebagai sosok yang mengayomi seluruh lapisan masyarakat, tana pandang bulu. Puluhan surau, langgar dan masjid yang telah ia dirikan. Tak main-main, konon kabarnya masjid yang didirikannya mencapai 41 masjid. Bahkan ada yang meyebutnya 61 masjid. Wallahu a’lam.

Dan salah satu peninggalan fenomenalnya adalah Masjid Sedan yang saat ini masih kokoh berdiri. Semasa hayat, Sayyid Hamzah Syatho dikenal sangat alim. Ia menjadikan bacaan Qur’an sebagai wirid kesehariannya di manapun dan bagai manapun.

Salah satu peninggalan beliau yang lain ialah madrasah diniyah Waru, Sedan yang beliau dirikan bersama KH. Zawawi ayahanda KH. Djauhari Zawawi Pendiri dan pengasuh Awal Pondok Pesamtrem Assunniyyah Kencong Jember.

Setelah sekian lama bermukim di Sedan, Mbah Hamzah berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1940 M dan dimakamkan di desa Gamang Sedan. Kini setiap tanggal 23 Muharrom ribuan masyarakat berduyun-duyun untuk memperingati wafat sang wali

KH. ZUBAIR UMAR AL-JAELANI JENAZAH TETAP UTUH 20 TAHUN DI KUBUR




KH. ZUBAIR UMAR AL-JAILANI
KH. ZUBAIR UMAR AL-JAILANI (1908-1990): CORONG ISLAM NUSANTARA DI JANTUNG KOTA MEKAH DAN KAIRO
Kiai Haji Zubair Umar al-Jaelani adalah ulama-intelektual Nahdlatul Ulama (NU). Ahli ilmu falak ini pernah menduduki jabatan Rektor IAIN Wali Songo Semarang dan anggota Syuriyah PBNU ketika KH. Abdul Wahab Chasbullah menjabat sebagai Rais Am. Karya santri KH. Hasyim Asy’ari ini, kitab al-Khulashatu-l-Wafiyah, hingga kini menjadi rujukan utama dalam kajian ilmu falak dan astronomi di Indonesia maupun di kampus-kampus terkenal di dunia Islam.
Pada usia delapan tahun, beliau belajar pada Sekolah Diniyah di Madrasatul Ulum, yang berada dalam komplek Mesjid Besar Bojonegoro, selama lima tahun (1916-1921). Setelah itu nyantri di beberapa pesantren terkenal menimba ilmu sebagai santri kelana. Awalnya di Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, selama empat tahun (1921-1925) di bawah asuhan KH. Dimyathi Abdullah (wafat 1934). Waktu itu Pesantren Tremas menjadi kiblat santri kelana karena pamor pesantren dari abad 19 ini sudah demikian terkenal hingga ke Mekah.
Dari Pesantren Tremas, Kiai Zubair lalu berguru pada Kiai Amir Idris (wafat 1938) di Pesantren Simbang Kulon, Pekalongan, Jawa Tengah, pada tahun 1925-1926. Beliau lalu mengembara ke Jawa Timur, tepatnya ke Pesantren Tebuireng Jombang dan berguru kurang lebih selama tiga tahun (1926-1929) pada KH. Hasyim Asy’ari. Selama dalam proses belajar di Pesantren Tebuireng, ilmu falak ternyata menjadi ilmu favorit beliau.
Tidak lama kemudian beliau bersama sang istri dikirim oleh ayah mertuanya untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekah al-Mukarramah dan berguru kepada beberapa ulama terkenal selama tahun 1930-1935.
Harapan Kiai Zubair untuk mendalami ilmu falak di Kota Suci Mekah ternyata kandas. Sejumlah ulama yang menguji beliau dalam ilmu ini ternyata kualitasnya masih di bawah beliau! Akhirnya mereka-lah justru yang belajar kepada Kiai Zubair Umar. Hal serupa juga beliau temui waktu menuntut ilmu di Kota Suci Madinah: tidak juga mendapatkan seorang ulama falak yang diharapkan. Beliau disarankan untuk pergi mencari ulama dimaksud ke Damaskus, Syiria, dan ke Palestina, namun hasilnya tetap sama. Di sana ada yang menyarankan beliau berguru ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dimana ada seorang ulama falak yang mumpuni. Waktu itu rektornya dipegang oleh Syekh Musthafa al-Maraghi.
Di Al-Azhar Kiai Zubair bertemu dengan Syekh Umar Hamdan al-Mahrasi (wafat 1949), seorang ulama multi talenta yang punya banyak murid – baik di Mekah maupun di Kairo –yang kemudian menjadi ulama kenamaan di Indonesia. Keahlian beliau dalam ilmu falak kemudian diakui oleh para ulama Al-Azhar, sehingga beliau diangkat sebagai dosen ilmu falak selama tahun 1931-1935.
Selama di Al-Azhar Kiai Zubair menyusun naskah bukunya dalam ilmu falak – yang kemudian terbit di Indonesia sekitar tahun 1937 dengan judul al-Khulashatu-l-Wafiyah. Selama mengajar para mahasiswa Al-Azhar, Kiai Zubair Umar tidak menggunakan buku rujukan atau maraji yang wajib dibaca mahasiswa. Oleh karena itu para mahasiswa tekun dan rajin mencatat ceramah-ceramah beliau dalam kelas. Catatan-catatan tersebut beliau kumpulkan lalu dibawa ke Indonesia, yang ternyata memperkaya konsep buku yang sedang beliau tulis.
Dari Kairo, Kiai Zubair Umar kembali ke Indonesia di tahun 1935, dan menetap di rumah keluarga istrinya di Suruh, Salatiga. Beberapa tahun kemudian usai Revolusi Kemerdekaan beliau mendirikan Pesantren Luhur Salatiga yang kemudian menjadi IKIP NU, lalu berubah menjadi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo. Setelah itu berangsur-angsur berubah menjadi STAIN Salatiga (kini IAIN Salatiga). Selain sibuk menggelar beberapa pengajian di tengah masyarakat, Kiai Zuber juga pernah diminta mengajar di Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng Jombang – meski tidak berlangsung lama karena sibuk mengurus pesantren dan tugas yang beliau emban di tengah masyarakat.
Tugas-tugas keilmuan dan kemasyarakatan ternyata sudah banyak menunggu beliau. Pertama sebagai penghulu pada Pengadilan Negeri Salatiga, tahun 1945-1947, penghulu Kabupaten Semarang di Salatiga tahun 1947-1951, Koordinator Urusan Agama Kerasidenan Pati, tahun 1954-1956, Ketua Mahkamah Islam Tinggi yang berkedudukan di Surakarta tahun 1962-1970, serta menjadi dosen lalu diangkat jadi Rektor IAIN Walisongo Semarang sejak 5 Mei 1970 hingga 1972. KH. Zubair Umar juga pernah diminta selaku promotor oleh Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU) Surakarta (didirikan oleh PBNU di tahun 1958) untuk menganugerahkan gelar doktor kehormatan (honoris causa) kepada dua orang sarjana asal Universitas Al-Azhar Kairo pada tanggal 15 Desember 1968. Keduanya adalah Prof. Dr. Muadz dan Prof. Dr. Bashrawi. Ini mengingat reputasi beliau sebagai dosen yang pernah mengajar di kampus bergengsi di Mesir itu.
Beliau menjadi Ketua NU cabang Kabupaten Semarang tahun 1945, Ketua Masyumi cabang Salatiga, komandan Barisan Kiai-Barisan Sabilillah Kabupaten Semarang di masa Revolusi Kemerdekaan mengusir penjajahan Belanda, Ketua Syuriah Partai Masyumi cabang Kabupaten Semarang dan kota Salatiga tahun 1946, Rais Syuriah Partai NU cabang Kabupaten Semarang dan kota Salatiga tahun 1952-1956, Rais Syuriah NU wilayah Propinsi Jawa Tengah tahun 1956-1970, lalu anggota Syuriyah PBNU di era kepemimpinan Rais Am KH. Abdul Wahab Chasbullah periode 1967-1971.
Pada tahun 1971 Kiai Zubair menerima hibah tanah dari pemerintah seluas enam hektar untuk pembangunan pesantren. Pesantren ini kemudian berdiri dengan nama Pondok Pesantren Joko Tingkir di tahun 1977, karena lokasinya yang kebetulan berada di Kecamatan Tingkir Lor, Salatiga. Namun, sepeninggal Kiai Zubair, Pesantren Joko Tingkir tidak lagi menggelar pengajian, dan kini hanya tinggal petilasan saja.
KH. Zubair Umar al-Jailani wafat pada tanggal 10 Desember 1990/24 Jumadil Awal 1411 H dan dimakamkan di dalam komplek pemakaman Kauman, di belakang Masjid Raya Baitul Atiq. Delapan tahun setelah beliau wafat, area pemakaman tersebut terkena dampak banjir yang sangat deras, sehingga menimbulkan kerusakan pada makam. Kemudian dilakukan pembenahan makam. Saat makam CORONG ISLAM NUSANTARA ini dibongkar, jenazah beliau ditemukan masih utuh dalam posisi yang sama seperti waktu dikuburkan. Padahal papan yang mengelilingi makam beliau sudah hancur. Setelah dilakukan pembenahan dan rehabilitasi, jenazah beliau dimasukkan kembali tanpa dimandikan ulang …
Allah yarhamhu….


KH. Masduqi Mahfudz Malang

Drs. KH. Ahmad Masduqi Mahfudz dilahirkan di Desa Saripan (Syarifan) Jepara Jawa Tengah pada 1 Juli 1935. Di desa tersebut, terdapat sebuah makam kuno yang banyak dikenal orang dengan Mbah Jenggolo.

Alkisah, berkat karomah dari Mbah Jenggolo ini, dulu ketika baru ada radio dan televisi, siapa saja yang membawa ke desa ini pasti gila. Penyakit gila ini baru akan sembuh kalau kedua alat elektronik dikeluarkan dari Saripan. Keadaan seperti ini masih bisa ditemui semasa Kyai Masduqi masih kecil. Namun perlahan-perlahan seiring dengan perubahan zaman, karomah ini berangsur surut hingga hilang sama sekali. Melihat lingkungannya yang seperti itu, ditambah dengan lingkungan keluarga yang taat dan fanatik terhadap agama serta memiliki semangat juang yang tinggi untuk menegakkan kebenaran dan menyebarkan agama Allah.

Nasab dari Ayah
Jika dilihat dari jalur keturunan Ayah, tidak dapat diketahui secara terperinci tetapi yang jelas seluruh keluarga beliau adalah termasuk orang-orang yang gigih berjuang dalam mensyiarkan agama Allah. Jalur keturunan ayah ini terputus hingga kakek beliau saja. Kakek beliau ini termasuk tokoh agama yang disegani dalam lingkungan masyarakat mereka. Perjuangannya tidak hanya terhadap orang awam saja, melainkan kepada seluruh lapisan masyarakat bahkan yang jahat sekalipun. Beliau bahkan dengan gigih menaklukkan orang-orang jahat yang banyak berkeliaran saat itu. Hingga beliau mampu merubah pola tingkah laku mereka itu menjadi orang yang taat menjalankan agama Allah.

Semangat jihad, fanatik dan ketaatan menjalankan agama serta keberanian membela kebenaran ini secara terus-menerus ditempa dan ditekankan oleh Kyai Machfudz, ayah Kyai Masduqi. Maka tidak heran bila sifat-sifat tersebut sangat melekat pada diri Kyai Masduqi dalam menegakkan agama Allah.

Nasab dari Ibu
Bila ditelusuri dari garis keturunan ibu, dapat dilihat dari Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Beliau adalah seorang Jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan beliau adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk cukup dari rumahnya. Suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram. Pada makamnya yang terletak di Tayu Pati, tertulis “Makom niki dipun bangun Bagus Salman bongso jin” (makam ini dibangun Bagus Salman bangsa Jin).

Dari Syaikh Abdullah al-Asyik inilah menurunkan nenek KH. Achmad Masduqi Machfudz, yaitu Nyai Taslimah. Di kalangan masyarakat, Nyai Taslimah sebagai seorang pewaris perjuangan Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad, dikenal sebagai seorang penyebar agama. Di tangannya tidak sedikit orang yang diislamkan. Mereka yang asalnya belum beragama dengan baik akhirnya menjadi santri Nyai Taslimah.

Dari pernikahannya dengan Kyai Asmo Dul, Nyai Taslimah dikaruniai dua orang putri, yaitu Chafshoh dan Masfufah. Beliau juga mengangkat seorang anak angkat yang bernama Suyuti. Putri beliau yang pertama, Chafsoh, dipersunting oleh Kyai Machfudz, putra dari Bapak Arso Husein dengan Ibu Saumi. Dari pernikahan ini, keduanya dikarunia 14 putra-putri. Mereka ini adalah:

  1. Muainamah (Alm.)
  2. Achmad Fahrurrazi (Alm.)
  3. Khadijah (Alm.)
  4. Achmad Masduqi (Alm.)
  5. Sa’adah (Jepara)
  6. Achmad Said (Alm.)
  7. Sofiyah (Alm.)
  8. Achmad Shohib (Alm.)
  9. Achmad Zahid (Malang)
  10. Ahmed Mas’udi (Jakarta)
  11. Achmad Zahri (Alm.)
  12. Achmad Maskuri (Alm.)
  13. Aslihah (Malang)
  14. Achmad Mujab (Jepara)


Dari keempat belas putra-putri Nyai Chafsoh ini, tujuh diantaranya meninggal dunia ketika masih kecil dan remaja. Kyai Masduqi merupakan putra keempat dan merupakan putra sulung yang hidup.

Kehidupan Keluarga
KH. Achmad Masduqi Machfudz dikenal sebagai orang yang cukup sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga yang beliau bangun sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang dicitrakan Kyai Machfudz sangat membias pada keluarga Kyai Masduqi. Terlebih sejak kecil, Kyai Masduqi sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidup beliau adalah: “Kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan duniapun akan teraih.”

Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Chasinah putri dari KH. Chamzawi Umar pada 7 Juli 1957 dalam usia 22 tahun, beliau dikaruniau 9 orang anak, yaitu:

  1. Mushoddaqul Umam, S.Pd. Ia lahir di Tarakan Kalimantan Timur, tanggal 21 Juli 1958. Saat ini di kediamannya di Jl. Danau Kerinci IV, E15, disamping kesibukan sehari-hari menjadi Wakil Kepala Sekolah SMU 10 dan pengajar pada MA Al-Maarif Singosari, S1 bahasa Inggris yang pernah mondok di Pesantren Roudhatut Tolibin Rembang ini, juga merintis majlis ta’lim untuk orang tua dan siswa SD, SMP, SMU dan mahasiswa.
  2. Muhammad Luthfillah, SE. Ia dilahirkan di Rembang Jawa Tengah pada tanggal 28 Oktober 1959. Sarjana Ekonomi dari UNIBRAW yang sebelumnya menempuh pendidikan di Pesantren Roudlotul Tolibin Rembang ini, saat ini menjadi pengurus PP. Pagar Nusa dan anggota DPRD Jatim dari fraksi FKB.
  3. dr. Moch. Shobachun Niam SpB-KBD. Ia dilahirkan di Samarinda Kalimantan Timur pada 25 Agustus 1961, sambil berdinas di RSU Polmas Sulawesi, alumnus Pesantren Roudlotut Tolibin Rembang ini juga menjadi pengurus wilayah NU Sulawesi Selatan.
  4. M. Taqiyyuddin Alawiy, dilahirkan di Malang pada 8 April 1963. Setelah menyelesaikan studi di Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang, ia meneruskan studi di Fakultas Tehnik UNISMA Malang. Saat ini, disamping menjadi dosen di Institusi yang sama, juga menjadi Rais Syuriah MWC Kedung Kandang Malang.
  5. Dra. Roudlotul Hasanah, dilahirkan di Malang pada 8 Maret 1965. Setelah mondok di Pesantren Tambakberas Jombang, ia memperoleh gelar Sarjana Bahasa Inggris di IAIN Malang (sekarang UIIS). Dalam kesehariaannya mengajar di MTSN Sepanjang Gondalegi Malang, juga menjadi salah seorang tenaga pengajar pada Pesantren Nurul Huda Malang.
  6. Isyroqunnadjah, M.Ag., dilahirkan di Malang pada 18 Februari 1967. Ia menyelesaikan studi S2 di PPS IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Saat ini alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini, disamping menjadi Ketua Program Bahasa Arab pada UIIS, juga menjadi wakil sekretaris Rabithah Ma’ahidil Islam, Cabang Malang.
  7. Dra. Badiatus Shidqoh, dilahirkan di Malang pada 11 April 1968. Saat ini alumnus Pesantren Tambakberas Jombang ini menjadi tenaga pengajar pada STIE Malangkucecwara Malang.
  8. Fauchatul Fithriyyah. S.Ag. dilahirkan di Malang pada 25 Agustus 1970. Ia memperoleh gelar sarjana di STAIN Malang (sekarang UIIS) setelah sebelumnya mondok di PP. Maslakul Huda Kajen Pati Jateng. Kesibukannya yaitu mengelola beberapa TPQ binaan Pesantren Nurul Huda, juga menjadi tenaga pengajar pada Pesantren Nurul Huda Malang.
  9. Achmad Shampton Masduqi, SHI. Ia dilahirkan di Malang pada 23 April 1972. Selepas SMP ia mondok di Pesantren Lirboyo Kediri dan beberapa pesantren di sekitar Kediri. Memperoleh gelar sarjana di STAIN Malang (sekarang UIIS), saat ini menjadi khodim Pesantren Nurul Huda.


Sebelum memasuki dunia perkuliahan seluruh putra dan putri beliau tanpa kecuali diharuskan mengenyam pendidikan di pesantren. Ini merupakan prinsip yang ditanamkan Kyai Masduqi kepada para putra-putrinya. Dari pengalaman mengaji di pesantren ini, meskipun background pendidikan putra-putri beliau beragam, mereka mampu menjalankan amanah dakwah di tengah-tengah masyarakat.

Pendidikan Formal
KH. Achmad Masduqi Machfudz terlahir di tengah-tengah keluarga religius yang taat dan fanatik terhadap agama Islam. Sehingga sejak kecil beliau sudah dihiasi dengan tingkah laku, sikap dan pandangan hidup ala santri. Karena itu pula, Kyai Machfudz orangtuanya, tidak menghendaki Kyai Masduqi kecil untuk bersekolah di sekolah umum, cukup di sekolah agama saja.

Tetapi larangan ini tidak mematahkan semangat Kyai Masduqi kecil untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan yang tidak terbatas hanya di bidang agama saja. Dengan semangat tinggi, Kyai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri dengan menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan yang lain tanpa sepengetahuan kyai atau orangtuanya sendiri.

Adapun pendidikan formal yang telah beliau selesaikan antara lain:
  1. Sekolah Rakyat di Jepara (1942-1948)
  2. SMP di Jepara (1950-1953)
  3. Sekolah Guru Hakim Agama/SGHA di Yogyakarta (1953-1957)
  4. IAIN Sunan Ampel Malang (1962-1966)
  5. IAIN Sunan Ampel Malang program doktoral (1975-1977).


Ketekunan, keuletan dan semangat juang yang tinggi, Kyai Masduqi akhirnya mampu meraih berbagai macam ilmu pengetahuan baik di bidang agama maupun pengetahuan umum.

Pendidikan non Formal
KH. Achmad Masduqi Mahfudz sejak berusia 5 tahun tepatnya pada tahun 1939 sudah disekolahkan di madrasah ibtidaiyah di kampungnya yang pada waktu itu dikenal dengan istilah “Sekolah Arab”, karena di sini pelajarannya semua berbahasa Arab. Beliau belajar di sekolah ini selama kurang lebih lima tahun yaitu dari tahun 1939-1944. Di sinilah beliau mulai mempelajari dasar-dasar berbahasa Arab dan agama Islam.

Kemudian setelah beliau menyelesaikan sekolahnya dan mempunyai dasar yang cukup, beliau meneruskan belajarnya di Pondok Pesantren Jepara. Di sini beliau belajar kurang lebih selama 8 tahun, yakni dari tahun 1945 - 1953, dan menyelesaikan Madrasah Tsanawiyah pondok selama 3 tahun.

Pondok Pesantren Jepara ini diasuh oleh Kyai Abdul Qadir, di sini beliau belajar ilmu-ilmu alat yakni nahwu dan sharaf, fiqih, tauhid dan lain-lain. Karena beliau belajar di sini sudah cukup lama, maka tidak heran jika ilmu-ilmu tersebut sedikit banyak telah beliau kuasai.

Setelah menyelesaikan pelajarannya di pondok pesantren Jepara, beliau masih merasa belum cukup ilmu pengetahuan agamanya, dan akhirnya beliau pergi untuk belajar di Pondok Pesantren Krapyak.

Kisah Saat Mondok di Krapyak
“Aku heran dengan cara Mbah Ali mendidikku. Pada mulanya aku disuruh sorogan Ta’limul Muta’allim. Belum sampai khatam sudah disuruh ganti Taqrib. Baru selesai bab haji disuruh ganti kitab lain lagi. Begitu seterusnya aku gonta-ganti kitab tanpa satu pun mengkhatamkannya. Rasanya manfaat yang kuperoleh bukan terutama dari kitab yang kubaca, tapi karena sering memandangi wajah Mbah Ali saja.”

Kiyai A. Masduqi Machfudh (Pengasuh PPSSNH Malang), Rais Syuriyah PBNU, menceritakan bahwa Mbah Ali memiliki maziyah (keistimewaan) bisa mentransfer ilmu tanpa mengajar secara verbal. Pada waktu pertamakali datang ke Krapyak –mungkin sekitar tahun 50/60-an, Santri Masduqi diajak mengikat janji oleh Mbah Ali: “Kalau kamu sanggup tinggal di pondok nggak pulang-pulang sampai tiga tahun penuh, kujamin kamu akan jadi lebih alim ketimbang yang sudah mondok 15 tahun tapi bolak-balik pulang”, begitu akadnya.

Santri Masduqi benar-benar melaksanakan akad itu. Pada akhir tahun ketiga, barulah ia pamit pulang. Sebelum mengijinkan, Mbah Ali meraih tangan Santri Masduqi dan membawanya ke meja makan: “Ayo makan bareng aku”, kata beliau.

Tapi ketika Santri Masduqi hendak meraih centong nasi, Mbah Ali melarangnya: “Kamu duduk saja!”

Lalu tanpa terduga beliau mengambilkan nasi untuk santrinya itu, meladeninya dengan sayur dan lauk-pauk hingga minuman sesudah makan, seolah Mbah Ali-lah yang menjadi khadam.

“Sejak saat itu”, kisah Pakdhe Masduqi, “tak ada kitab yang sulit bagiku. Setiap ada lafadz yang tak kuketahui maknanya, seperti ada yang membisiki telingaku, member tahu artinya…”

Aku percaya pada Pakdhe Masduqi, walaupun barangkali beliau menceritakan ini sekedar untuk membesarkan hatiku ketika beliau ta’ziyah meninggalnya ayahku. Mungkin juga aku percaya karena terdorong ketidakpahamanku akan metode pendidikan Mbah Ali. Setiap santri seolah diperlakukan khusus, dengan cara yang berbeda dari lainnya. Sepupuku yang sekamar denganku tidak cukup disuruh menulis saja. Ia diperintahkan ngeblad tulisan kitab. Santri lain disuruh mengumpulkan maqolah-maqolah dari berbagai kitab. Seorang santri baru malah diperlakukan dengan “sangat demokratis”.

“Kamu sorogan ya, Nak”, kata Mbah Ali kepada anak yang baru lulus SD itu.

“Sorogan itu apa, Mbah?”

“Setiap habis Shubuh kamu baca kitab di depanku”, Mbah Ali sabar.

“Kitab itu apa, Mbah?” Kuper nian anak itu.

“Kitab itu ya buku.”

“Yang dibaca buku apa?”

“Terserah kamu…”

Pagi itu, di tengah membaca kitabku di hadapan Mbah Ali yang dirubung santri-santri, aku kaget oleh suara lantang anak baru di sebelahku: “Pulau Buton menghasilkan aspal…!”

Kulirik “kitab” yang dipegangnya: PELAJARAN GEOGRAFI KELAS I SMP! (Terong Gosong, digagas oleh mantan juru bicara Presiden RI era Abdurrahman Wahid, KH. Yahya Cholil Staquf).

Berawal dari Mushalla, Merintis Pesantren Nurul Huda
Sejak tahun 1957 beliau mengajar di berbagai sekolah di Kalimantan, seperti di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan.

Tahun 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang, sekaligus sebagai dosen Tadribul Qiraah (Bimbingan Membaca Kitab), bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasun pesantren, beliau “melayani” pengajian di berbagai masjid di daerah Malang dan Jawa Timur terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kyai.

Pemahamannya terhadap kitab gundul sangat dalam, baik ketika dalam pembahasan masalah di forum Majlis al-Bahtsi wa al-Muhadlarah ad-Diniyyah, kodifikasi hukum Islam, bahtsul masail, maupun tanya jawab hukum Islam pada majalah Aula. Sehingga jabatan Katib Syuriyah selama 15 tahun, Rois II Syuriyah sejak 1985, dan Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur hingga 2007 sangat tepat baginya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintisnya bermula hanya sebuah mushalla kecil yang berada di Mergosono gang 3B. Mushalla yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah mulai digalakkan semenjak ia berdomisili di situ ketika meneruskan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Cabang Malang.

Karena keahliannya dalam bidang agama, banyak mahasiswa yang nyantri kepadanya dan kemudian terus ia semakin dikenal dan semakin banyak orang belajar agama sampai akhirnya mushalla kecil tersebut menjadi pesantren yang sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai 3 itu, KH. Achmad Masduqi Mahfudz belum pernah meminta sokongan dari masyarakat sedikitpun. Beliau hanya mengandalkan dengan amalan bacaan shalawat sebanyak 10.000 kali. Dengan berkah shalawat itulah beliau memohon kepada Allah untuk pesantrennya dan putra-putrinya. Keampuhan shalawatnya terbukti dengan berdirinya Pesantren Nurul Huda yang megah serta kesemua anaknya berhasil lulus sarjana.

Ulama yang Mumpuni Ilmu Agama dan Ilmu Dunia
Beliau merupakan salah satu ulama yang mumpuni dan dalam memberikan materi tidak monoton tapi dari satu materi bisa menjabarkan luas. Jamaah pun menyimak dengan puas dan semua bisa menerima materi yang disampaikannya. Karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya.

Pengetahuan yang beliau miliki sangat luas tidak saja dalam masalah ukhrawi tapi juga duniawi, termasuk masalah teknologi, sosial budaya dlsb.

Di Malang dekade tahun 80/90-an ada beberapa kyai yang memiliki kesamaan dalam memberikan materi seperti beliau, seperti Kyai Durajak (KH. Abdurrazaq), Kyai Nabrawi Kasin dan Kyai Mahfudz Blimbing (KH. Mahfudz Asasi).

Masih ingat jelas, tahun 90-an beliau mengajar di Masjid Qudsi Malang. Kelihatan beliau nampak letih dan menyampaikan materi kitab Irsyadul ‘Ibad nampak lelah (mungkin hari itu jadwal beliau sangat padat). Takmir masjid berinisiatif menukar air putih dengan kopi dan disediakan tegesan (asbak). Kontan wajah beliau sumringah dan “clinggg...” beliau menyalakan korek zipponya. Akhirnya beliau menyampaikan materinya dengan semangat dan jamaah menerimanya dengan suka cita. (Penuturan Ustadz Didik Isnanto).

Kyai yang Teguh Berprinsip
Al-Maghfurlah KH. Achmad Masduqi Mahfudz in Memoriam. Ketika seorang santri membela kiainya dari berbagai serangan kiri-kanan, apa yang diharapkan nanti dari doanya?

Dalam Muktamar NU di Solo tahun 2004, KH. Masduqi Mahfudz diserang anak-anak muda liberal sebagai kiai jumud dan anti-progresif. Pasalnya, sang kiai kharismatik ini menolak hermeneutika dan Islam liberal masuk dalam agenda Muktamar.

Saya lalu membela sang kiai dalam forum Muktamar itu. Lalu saya tuangkan dalam buku “Islam Pascakolonial” di bab 7, pas buku ini terbit di tahun 2005. Waktu membela beliau itu, doa saya hanya satu: “Ya Allah mudahkanlah saya membaca khazanah keilmuan pesantren dalam literatur-literatur bahasa Belanda dari abad 16 hingga abad 20. Semoga, ketika sang kiai bertemu Sang Khaliqnya, beliau bisa menyampaikan doa saya tersebut ke sana dan didengar oleh para malaikat,” kenang KH. Ahmad Baso, sang muallif Pesantren Studies.

Isyarat Kewafatan KH. Achmad Masduqi Machfudz
Gus Ahmad Mundzir menceritakan tentang kesaksiannya di detik-detik mangkatnya KH. Achmad Masduqi Mahfudz. Saat itu KH. Masduqi sedang dirawat di RS Saiful Anwar. Beliau berkata dalam keadaan setengah sadar, bahwa beliau diajak rapat sama Gus Dur.

Kemudian ibu bertanya: “Wonten nopo Bah?” (Ada apa Bah).

Jawab KH. Masduqi: “Aku diajak rapat iki, ambek Gus Dur. (Saya sekarang diajak rapat sama Gus Dur). Maafkan Abah bila ada salah. Bagi yang merasa mempunyai hak adami atas Abah, saya dan saudara-saudara bersiap menanggungnya, sampaikan kepada kami.”

Sebelumnya, dalam kondisi masih sakit, KH. Achmad Masduqi Mahfudz berkata kepada putranya: “Setelah 7 harinya Mbah Sahal, akan ada barisan mergosono.” Ternyata barisan mergosono itu adalah mu’azziyin (para pentakziah).

Akhirnya KH. Achmad Masduqi Machfudz wafat pada hari Sabtu, tanggal 1 Maret 2014 sekitar pukul 17.27 WIB di Rumash Sakit Saiful Anwar Malang. Lahu al-Fatihah…

 

Blogger news

Blogroll

About